Menyelamatkan Jejak Ulama Lewat Layar: Siswa MA Tarbiyatul Banin Menghidupkan Manuskrip Kalongan dalam Film Dokumenter
PATI — Di tengah kemajuan teknologi yang menggeser banyak ranah kehidupan, ada harta karun budaya yang nyaris terlupakan: manuskrip kuno. Di Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, ratusan tahun silam, ulama setempat menorehkan karya monumental dalam bentuk naskah fiqih-sufistik yang kini dikenal sebagai Manuskrip Kalongan.
Manuskrip ini, yang selama puluhan tahun hanya terjaga rapuh di lemari milik keluarga pewaris, kini mendapatkan napas baru. Salsabila Azzahra, bersama timnya dari Madrasah Aliyah Tarbiyatul Banin, mengangkat manuskrip tersebut ke layar film dokumenter. Sebuah karya yang tak hanya mempertahankan fisik naskah, melainkan juga merangkai kembali makna spiritual dan intelektual masa lalu ke dalam bahasa zaman modern.
Dengan film dokumenter ini, warisan ulama Pekalongan tak lagi sekadar tulisan pudar di kertas usang. Ia menjadi dialog lintas generasi, sebuah jembatan digital yang menghubungkan tradisi keilmuan kuno dengan semangat kekinian. Melalui wawancara dengan tokoh masyarakat, akademisi, dan pewaris manuskrip, penonton diajak menyelami nilai-nilai sufistik yang sarat akan makna.
“Ilmu bukan sekadar transfer pengetahuan, tapi juga membentuk akhlak dan kepribadian,” kata KH Ubaidillah Achmad Taman Munji, peneliti manuskrip pesantren dan dosen UIN Semarang. Pernyataan ini menegaskan betapa manuskrip bukan hanya artefak masa lalu, melainkan peta pembelajaran moral dan spiritual bagi masyarakat kini.
Sejarah manuskrip ini tidak lepas dari dinamika pendidikan Islam di Pekalongan, yang berawal dari gagasan dan perjuangan ulama lokal sejak 1930-an. Madrasah Far’iyah Matholiul Falah yang didirikan di tengah tantangan kolonial serta interupsi pemerintahan Hindia Belanda, menjadi saksi bisu kegigihan menjaga pendidikan Islam sebelum kelahiran kembali lembaga Tarbiyatul Banin pada masa pendudukan Jepang.
Roiyan Roiyyanallillah, guru PAI di MA Tarbiyatul Banin, menilai film dokumenter sebagai perwujudan fiqih yang lentur, mengadaptasi zaman dengan metode belajar kitab kuning yang diintegrasikan dengan teknologi digital.
“Dengan media ini, proses belajar kitab kuning yang tradisional sekarang bisa lebih relevan dan diterima generasi muda,” ujarnya.
Ketua MWC NU Kecamatan Winong, Dhofir Maqosith, melihat dokumenter tersebut sebagai bukti hidupnya tradisi ulama Pekalongan di era modern. “Generasi muda tidak sekadar menjaga naskah fisik, tapi juga menghidupkan spirit ulama melalui teknologi,” katanya.
Film ini kemudian bukan hanya soal pelestarian manuskrip, tapi merupakan langkah strategis menjaga akar budaya sekaligus menyambut masa depan yang digital. Sebuah warisan yang hidup, lestari, dan bisa diakses kapan saja oleh siapa saja.
Untuk menambah wawasan tentang manuskrip, bisa dilihat dalam video di bawah ini:
0 Response to "Menyelamatkan Jejak Ulama Lewat Layar: Siswa MA Tarbiyatul Banin Menghidupkan Manuskrip Kalongan dalam Film Dokumenter"
Posting Komentar